Tuesday, August 6, 2019

City Branding dan Identitas Kota

Secara harfiah identitas adalah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada sesuatu atau seseorang yang membedakannya dengan yang lain, baik fisik maupun non fisik. Identitas dapat diartikan sebagai pembentuk jati diri yang meliputi segala sesuatu yang dapat membuat entitas (entity) yang dapat diuraikan dan dapat dikenali, yang memiliki kualitas dan karakteristik yang dapat membedakannnya dengan sesuatu lainnya. Identitas dititikberatkan sebagai ciri khas, dengan maksud utamanya agar dapat dikenali, mewakili citra visi, misi, harapan dan potensi diri atau kelompok.

City Branding dan Identitas Kota

Dalam konteks city branding, identitas menjadi bagian penting target upaya city
branding tersebut. Sebuah upaya city branding menjadi bermakna jika identitas
kota terbentuk dengan kuat dan mudah dikenali serta diakui oleh stakeholdernya.

Upaya membentuk identitas dalam city branding harus mempertimbangkan hal-hal esensial yang ada dalam segala upaya city branding. Anholt (2006) menyatakan bahwa terdapat 6 komponen yang melengkapi aktivitas city branding.

Diantaranya adalah presence, potential, place, pulse, people, dan pre requisities.

Terdapat enam komponen yang harus dimiliki oleh suatu kota dalam menciptakan tempat yang dapat memberikan nilai bagi stakeholder. Keenam komponen tersebut diantaranya:

City Branding dan Identitas Kota

1. Presence (keberadaan). Pandangan pengunjung terhadap status dan reputasi internasional kotanya tersebut secara global. Pengunjung akan mengenal suatu kota dengan melakukan suatu perjalanan atau mengunjunginya. Jika kota tersebut memang benar sudah terkenal sehingga mereka dengan mudah mengenali destinasi tersebut. Pasar yang lebih selektif kemungkinan akan melihat potensi dan keunikan apa yang dapat ditawarkan kota tersebut serta dapat memenuhi harapan mereka.

2. Place (tempat). Menyelidiki persepsi orang-orang tentang aspek fisik setiap
kota yang berkaitan dengan kenyamanan iklim, kebersihan lingkungan dan seberapa menariknya bangunan dan tamannya.

3. People (penduduk). Mengungkapkan bagaimana karakter penduduk kota tersebut apakah akan ramah tamah, dan apakah pengunjung mudah bagi mereka menemukan dan cocok membaur kedalam sebuah komunitas yang
berbagi tentang bahasa dan budaya mereka. Jika mereka merasa aman, maka pengunjung akan senatiasa menyenangi destinasi kota tersebut. Dan akan berdampak pada intensitas pengunjung datang ke suatu kota.

4. Pre-requisites (prasyarat). Hal penting yang harus diperhatikan dari suatu kota yaitu fasilitas pendukung kegiatan pengunjung. Fasilitas tersebut menjadi prasyarat utama dalam pengembangan suatu kota karena fasilitas tersebut merupakan alat bagi wisatawan dalam menentukan bagaimana orang-orang menerima kualitaskualitas dasar kota, apakah kota tersebut memuaskan,
menghasilkan, mengakomodasikan, seperti standar infrastruktur publiknya, aksesibilitas, event, dan fasilitas pendukung lainnya.

5. Pulse (kepekaan perasaan/kemenarikkan). Menentukan jika terdapat hal-hal daya tarik yang berhubungan dengan mengisi waktu kosong dan betapa menariknya kota tersebut berkaitan dengan hal baru untuk dicari. Misalnya bagaimana membuat seseorang senang di destinasi kota tersebut.

6. Potential (potensi). Mempertimbangkan peluang-peluang internal ataupun eksternal kota, misalnya apakah tempat tersebut cocok untuk berbisnis atau menjadi kota tujuan wisata. Pemerintah sebagai perencana perkotaan harus teliti memperhatikan peluang-peluang yang ada, karena jika tidak maka besar kemungkinan pesaing akan memanfaatkannya.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post