Saturday, September 15, 2018

ZIARAH DI SEKITAR MADINAH


SEMALAM, ada pengumuman kalau pagi ini jam 06.00 kamiharus berkumpul di depan hotel untuk ziarah. Pengumuman inidisambut gembira oleh semua jamaah yang rata-rata baru pertamakali ke Tanah Suci. Begitu selesai Shalat Subuh, semua berhamburbalik ke hotel. Menjelang jam 06.00, lobi sudah penuh sesak.Kalau menunggu antrean lift jelas akan makan waktu lama. Kamisegera ambil langkah cepat naik ke Lantai 7 lewat tangga.Lumayan berat tapi hitung-hitung untuk olahraga pagi.

Saya mengganjal perut dengan sepotong roti dan beberapa bijikurma. Selama di Madinah memang jatah makan yang diterimajamaah adalah dua kali saja, yakni makan siang dan makanmalam. Sedangkan untuk makan pagi, hanya roti dan buah yangdiberikan berbarengan dengan makan malam sebelumnya.

Bus yang ditunggu akhirnya muncul jam 06.30. Molorsetengah jam dari jadwal yang direncanakan. Program ini adalahprogram tambahan yang diberikan pihak hotel untuk jamaah. Jadifree, tanpa biaya. Keikutsertaan juga bebas. Ikut boleh, tidak ikutjuga tak apa.

ZIARAH DI SEKITAR MADINAH
Tempat yang dikunjungi pagi sampai siang ini ada tiga tempat,yakni Masjid Quba, kebun kurma, dan Jabal Uhud. Direncanakansebelum waktu Dhuhur kami sudah sampai hotel lagi, agar tetapbisa mengejar arbain.

Perjalanan ke Masjid Quba tidak makan waktu lama. Hanyasekitar 30 menit saja. Inilah masjid pertama yang dibangunRasulullah saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid ini tidakterlalu besar dari segi ukuran, tapi masih terawat keaslian dankebersihannya. Bisa ditebak, pasti berjubel karena semua jamaahpasti ingin shalat di masjid ini.

Iming-iming Kanjeng Nabi “Barang siapa yang shalat duarakaat di masjidku maka baginya pahala seperti di saat umroh.”Subhanallah, begitu luar biasanya imbalan yang diberikanAllah. Tak pelak semua yang datang ke Madinah baik untukumroh maupun haji pasti menyempatkan datang ke masjid ini.

Karena waktunya bersamaan dengan waktu Dhuha maka sayamanfaatkan juga sekalian berDhuha. Setelah berdoa secukupnyadan ambil foto untuk dokumentasi, saya keluar. Di halamanmasjid sudah menunggu banyak pedagang yang menawarkandagangannya. Ada kurma ajwa atau kurma nabi, kurma muda,tasbih, dan rumput maryam yang konon khasiatnya bisamempermudah persalinan.

Dari Masjid Quba, kami bergeser ke kebun kurma. Sebenarnyalebih tepat disebut toko kurma, karena memang ini adalah sebuahtoko yang menjual berbagai jenis kurma. Di sini juga ada berbagaijenis kacang, cokelat, dan kismis dengan berbagai varian harga.Ramainya luar biasa.

Sampai saya bilang, “Ini kok kayak gratis, ya?”Sudah jadi kebiasaan jamaah haji dari Indonesia, belanjaadalah yang paling disuka. Belum genap 3 hari di Madinah, sudahtambah barang bawaan beberapa kilo. Saya percaya ini karenapintarnya pengelola toko meyakinkan jamaah yang berkata hargakurma di Makkah lebih mahal daripada di Madinah. Kebanyakanpara pelayan tokonya juga orang Indonesia. Sehingga praktistidak ada kendala dalam berkomunikasi.Kelar di Pasar Kurma, semua jamaah segera merapat ke busyang sudah menunggu. Kali ini tujuannya ke Jabal Uhud. Jabalartinya gunung atau bukit, uhud artinya menyendiri. Padaumumnya, gunung di Madinah bersambungan satu dengan yanglainnya. Hanya Jabal Uhud yang sendiri. Jadi, Jabal Uhud artinyabukit yang menyendiri.

Jabal Uhud ini termasuk istimewa. Nabi Muhammad SAWbersabda, Jabal Uhud ini selalu dikenang karena di sana pernahterjadi perang besar antara pejuang Muslim dengan kaum Quraisypada tahun 625 Masehi. Dalam perang tersebut gugur 70 pejuangtermasuk paman Nabi yang dikenal dengan julukan 'Singa PadangPasir' yakni Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kecintaan Rasulullah kepada syuhada Uhud mendorongbeliau melakukan ziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Halini diikuti beberapa khalifah setelah beliau wafat. Jadi tidakberlebihan jika jamaah haji atau umroh yang datang ke Madinahmenyempatkan diri ziarah ke Jabal Uhud.

Setelah dirasa cukup, kami bergegas masuk bus. Namun,rupanya ada satu teman yang belum kembali. Setelah ditunggu beberapa saat, akhirnya rombongan memutuskan untuk kembalike hotel. Pertimbangannya agar masih cukup waktu untukmengejar Shalat Dhuhur di Masjid Nabawi dan teman tersebutsudah pernah berhaji beberapa tahun lalu. Jadi tidakdikhawatirkan ia akan tersesat dan bisa balik ke hotel dengan naiktaksi.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post