Saturday, September 15, 2018

BERTARUH NYAWA DI RAUDAH


JAM menunjuk angka 15.00. Tanda masih ada waktu 55 menitsebelum azan Asar berkumandang. Saya, Mbah Mudjito, PakPartono, dan Pak Mursidi, sudah bergerak ke Masjid Nabawi.Langkah lebar dan cepat Mbah Mudjito terasa berat diikuti olehPak Partono. Beberapa kali saya harus berteriak ke Pak Partonountuk berusaha mengimbanginya agar tidak ketinggalan darirombongan kecil ini.

Ketika masih di kamar tadi, Mbah Mudjito sudahmenyampaikan targetnya kalau sore ini nanti ia tidak akan pulangsampai Isya. Kalau bisa sore ini harus berusaha masuk Raudah.Awalnya, dalam hati saya sudah punya rencana untuk ke Raudahpagi hari saja. Tepatnya hari Sabtu sekitar jam 6 atau 7 pagi.

BERTARUH NYAWA DI RAUDAH
Namun karena sudah ada 'komando' dari Mbah Mudjito makasaya pun mengikutinya. Sami'na wa atho'na. Saya berbaik sangkasaja, siapa tahu Allah akan memberi kemudahan karena sayamengikuti dan ngemong empat orang yang sudah tergolong uzurdan belum berpengalaman di Madinah karena memang belumpernah haji atau umroh sebelumnya. Kecuali Mbah Mudjito yangpernah berhaji tahun 1992. Itu pun beliau bilang sudah banyaksekali perubahan secara fisik selama 26 tahun terakhir ini.

Kami mengambil posisi mendekat ke area Raudah. Tepatnyahanya 2 baris di belakang pagar pembatas area yang paling diburuoleh orang yang sedang berziarah di Madinah ini. Raudah adalahtempat paling mustajab untuk berdoa di Madinah. Tempat antaramimbar dan makam Nabi. Setelah Shalat Tahiyatul Masjid, kamiduduk sabar menunggu azan Asar berkumandang.

Di barisan paling depan dan juga di kanan-kiri saya, banyaksekali jamaah dari Afrika. Sebagian dari Nigeria dan sebagian lagidari Cote d'Ivoire, mudah sekali mengenalnya karna ada tulisan dibaju batik dengan dominasi warna kekuningan yang merekakenakan. Tak lama, azan yang ditunggu tiba. Selesai azan, kamisegera melakukan Shalat Rawatib Qabliyah Asar.

Lepas Shalat Asar, terdengar suara gemuruh orang dari luarRaudah yang sudah di dalam batas pagar terpal untuk berebutmasuk ke Raudah. Dengan jelas kami bisa melihatnya karenamemang hanya terhalang oleh pagar yang tidak terlalu tinggi. Taklama kemudian, ada aba-aba Shalat Jenazah. Kami punmengikutinya. Selama Musim Haji, hampir bisa dipastikan setiapselesai shalat fardlu pasti ada Shalat Jenazah.

Kelar Shalat Jenazah, kami merapat, menempel ke pagarpembatas. Namun tak lama kemudian, kami dihalau oleh petugaske arah kanan. Saya dengar arahan darinya. Tidak pahambahasanya, tapi kira-kira berupa arahan kalau mau ke Raudahdiminta geser ke arah kanan. Kami pun semua bergerakmengikutinya. Saking padatnya, ratusan orang tanpa jarak dipunggung dan kaki segera bergerak ke arah kanan.

Pelan-pelan kami berempat bisa bergerak lebih dekat ke pintuyang menjadi batas beberapa blok ke area luar Raudah. Terlihatdari pinggir pagar pembatas berjubel ratusan jamaah di areaRaudah. Sementara di beberapa blok di luarnya sudah mulaimenipis.

Tumpukan dan himpitan jamaah yang berdesakan di dekatpintu makin terasa. Saya lihat Mbah Mudjito, Pak Partono, danPak Mursidi masih bersemangat. Panas di luar sangat terasa. Suhuhari ini sudah melebihi 45 derajat Celcius. Saya berusahamenahan desakan dari kanan saya untuk melindungi Mbah-Mbahbertiga ini agar tidak makin terhimpit.

“Masih kuat Mbah?” tanya sayauntuk memastikan mereka belummenyerah dengan panas danhimpitan yang makin hebat.Mbah Mudjito menjawab, “Masih,harus terus bertahan.”Dalam hati saya, kasihan jugadengan beliau yang sudah sepuhdan masih berjuang sedemikianhebatnya.

Sudah lebih dari 20 menit belum ada tanda-tanda pagar akandibuka. Saya pastikan kondisi fisik mereka masih kuat.“Masih kuat Mbah?” tanya saya untuk memastikan merekabelum menyerah dengan panas dan himpitan yang makin hebat.Mbah Mudjito menjawab, “Masih, harus terus bertahan.”Dalam hati saya, kasihan juga dengan beliau yang sudah sepuhdan masih berjuang sedemikian hebatnya.

Pengalaman saya dulu ketika haji dan juga umroh, saya belumpernah mengalami kondisi yang begitu berat seperti ini. Faktornyaadalah waktu. Biasanya saya berjuang masuk ke Raudah adalahsaat waktu Dhuha. Waktu di mana sebagian besar jamaah kembalike penginapan setelah mereka berebut di Raudah sejak dini harisampai habis Subuh. Jam sekitar itu biasanya jauh lebih longgar.

Sudah masuk ke menit 30 kami berdesakan, belum ada tandatandayang jelas kalau pagar pembatas akan dibuka. Saya berbisik ketim kecil ini, “Ayo baca Al Fatihah Mbah, insya Allah dimudahkan.”

BERTARUH NYAWA DI RAUDAH

Sepuluh menit berlalu, ada tanda-tanda yang memberi harapanpagar pembatas akan dibuka. Alhamdulillah.Ada askar yang berseragam biru berjalan bergerak ke arahpagar. Kehadiran petugas ini dilihat oleh jamaah yang berjubel.Suara gemuruh mulai terdengar. Saya yakin mereka sepemahamandengan saya bahwa pagar akan segera dibuka. Desakan makin kuatterasa. Semua sudah tidak sabar untuk segera masuk.

Benar saja yang terjadi, petugas tersebut membuka pagarpembatas dari arah kanan dengan cara melipat terpal yang sangatkuat tersebut. Baru dapat sepertiga bagian yang terbuka jamaahsudah makin kuat merangsek masuk. Petugas tersebut memberitanda, sepertinya bermaksud meminta semuanya untuk sedikitbersabar.

Namanya orang banyak, pasti tidak semudah yang diharapkan.Benar saja dorongannya makin kuat, dan masya Allah, kondisinya makin tidak terkendali. Dorongan makin menggila. Sekuat tenagakami bertahan di pinggir pilar dan tembok.

Sementara itu, dari posisi tengah sudah banyak sekali jamaahyang terjepit. Posisi kami terjepit, benar-benar terjepit. Mau majutidak bisa, mau bergeser ke kanan lebih tidak bisa karenadesakannya lebih hebat.

Yang bisa dilakukan adalah bertahan dulu. Hampir semuaorang berteriak untuk menahan diri. Bersyukur kami tidak terkenadorongan ke arah kiri. Saya tidak bisa membayangkan jika sampaiterpental dan kepala mengenai pilar atau tembok. Pasti akansangat fatal akibatnya. Sebagai yang paling muda, sekuat tenagasaya menahan gempuran dorongan hebat itu.

Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil lolos dari kondisi yangsangat membahayakan tersebut. Kami berhasil geser sedikit ketengah dan terdorong maju sekuat-kuatnya. Jadilah kami masukruangan. Seperti anak kecil, kami pun berlarian berebut mendekatke arah Raudah.

Raudah masih beberapa blok lagi, ditandai dengan pilar-pilaruntuk bisa masuk ke sana. Saya beri aba-aba ke para Simbahbahwa kita belum masuk Raudah, masih sekitar 7 meter lagi.Pelan-pelan kami merangsek maju, dan lagi-lagi terkena himpitanyang tak kalah kuatnya. Kami kemudian terpisah. Saya minta kePak Partono untuk memegang tangan saya kuat-kuat. Akhirnyakami berhasil masuk Raudah.

Sementara Mbah Mudjito dan Pak Mursidi tidak saya ketahuidi mana posisinya. Saya tengok ke belakang, kanan, kiri, tidakjuga menemukan mereka.

Ya Allah, bahagia sekali akhirnya bisa masuk ke tempatistimewa ini. Segera saya sampaikan salam dan sholawat untukkekasih Allah tersebut.

“Assalamu'alaika ya Rasulullah, assalamu'alaika yaaHabiballah. Allahuma sholi alaa sayidina Muhammad wa alaaaali sayidina Muhammad.”

“Wahai Rasulullah, kami bersaksi engkau telahmenyampaikan risalah itu dengan benar, kami bersaksi engkautelah menyampaikan amanah itu kepada kami.”

“Kami mohon kepada-Mu ya Allah, sudilah kiranya agarKanjeng Nabi kelak berkenan jadi saksi kami di yaumulqiyamah.”

Cukup lama saya dan Pak Partono berdoa di Raudah. Sayaberbisik, “Pak, kita beruntung, kita ditolong oleh Allah bisasampai di tempat-Nya ini. Ayo berdoa yang bagus, Pak. Anakcucunya semua didoakan.”

Sementara ini, telah banyak sekali jamaah yang masihmengantre untuk bisa masuk.

Kembali saya berbisik ke Pak Partono. “Sudah cukup, Pak.Kita keluar saja. Biar tempatnya bisa dipakai yang lain. Kasihanmereka sudah mengantrenya lama sekali.”

Kami pun keluar dan tengak-tengok mencari di mana MbahMudjito dan Pak Mursidi berada. Apakah mereka sudah keluarduluan atau masih ada di dalam. Setelah 30 menit tidak munculjuga, akhirnya kami meninggalkan area Raudah.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post