Tuesday, April 17, 2018

SUBUH PERTAMA KAMI DI NABAWI

Subuh Pertama Kami Di Nabawi - Alarm di handphone saya berbunyi tepat jam 02.00 atau dua setengah jam sebelum azan Subuh berkumandang. Perhitungan saya, satu jam untuk persiapan bergiliran mandi dan wudhu 6 orang sehingga sudah bisa berangkat ke Masjid Nabawi tepat jam 03.00. Saya orang pertama yang bangun dan segera ambil posisi untuk mandi. Selesai mandi, sambil menunggu teman-teman yang lain, saya buka Quran untuk menyelesaikan juz 1 yang sebenarnya sudah saya selesaikan semalam. Alhamdulillah pas semua selesai mandi, selesai juga Juz 1 saya.

Udara pagi di luar hotel lumayan sejuk. Sambil berjalan perlahan, kami menikmati suasana pagi kota Nabawi. Kota ini makin hari semakin nyaman saja. Sudah banyak perbedaan jika saya bandingkan dengan tahun 2014, terakhir kali saya ke Madinah.

Saya jadi teringat Wening, anak pertama saya yang punya citacita ingin kuliah di salah satu Universitas di Madinah. “Ya Allah, wujudkan cita-cita anakku suatu hari nanti, aamiin.” Tak mau menyia-nyiakan istimewanya sepertiga malam di Madinah, kami segera masuk masjid dan tak lupa minum air zamzam yang tersedia di kanan-kiri lorong jalan di tengah masjid.

Rak tempat sandal, sepatu, dan tumpukan mushaf Al-Quran yang rapi adalah ciri khas di Masjid Nabawi. Saat ini, masih ada waktu 75 menit untuk berpuas diri bercengkerama dengan Allah di dekat makam Kanjeng Nabi, manusia paling mulia. Saya mengawalinya dengan Shalat Tahiyatul Masjid sebagai salam kehormatan di masjid Sang Nabi ini. Eman-eman kalau Tahajudnya tidak beda dengan saat di rumah.

Saya menikmati rakaat demi rakaat hingga tuntas 8 rakaat. Sambung dengan Shalat Tasbih dan ditutup dengan Witir 3 rakaat. Ya Allah, begitu mudah menemukan dan merasakan nikmatnya shalat di tempat istimewa ini. Sebagai pembuka doa, pasti saya dahulukan memohon ampun atas semua dosa yang telah saya dan keluarga perbuat di masa lalu. Saya mohonkan semua keluarga saya jadi orang-orang yang diterima taubatnya.

Lantas, satu persatu saya hadirkan wajah orang-orang terbaik dalam hidup saya. Ibu, Bapak almarhum, istri, dan semua anak-anak. Doa terbaik dan hajat-hajat saya haturkan untuk beliau-beliau.

“Ya Allah, jaga ibuku. Beri beliau kesehatan, angkat sakitnya, panjangkan umur beliau, dan beri kesempatan lebih lama bagi kami anak-anaknya untuk membalas semua budi baiknya. Beri kesempatan hamba untuk bisa mengajak beliau ke tempat suci-Mu ini. Bersujud di masjid kekasih-Mu ini.”

“Ya Allah, ampuni dosa almarhum ayahku. Jasa beliau untuk keluarga begitu besar. Berikan pahala yang sama untuk beliau seperti pahala yang Kau berikan kepada kami. Hanya karena wasilahnya kami ada di dunia ini. Ya Allah, jauhkan beliau dari siksa-Mu. Berikan beliau nikmat kubur dan kelak tempatkanlah di sebaik-baiknya tempat di surga-Mu.”

“Ya Allah, mengalir deras air mata ini setiap kali bersujud di tempat ini. Jadikan saksi bagi kami di Akhirat kelak. Jadikan ini sebagai sarana kami yang pantas mendapatkan syafaat dari Nabi dan Rasul-Mu Muhammad SAW.”

 “Ya Allah, terima kasih atas pemberian pendamping hidup terbaik untukku. Jaga istriku. Aku meyakini aku bisa seperti ini pasti juga karena dukungannya, karena kelonggaran hatinya. Berikan pahala yang sama seperti yang kami dapatkan karena haji dan umroh kami untuk istriku. Mudahkan kami terus bersama dengannya sampai di sebaik-baik tempatmu nanti di surga. Jadikan kami pasangan yang mampu melahirkan generasi sholihah yang cinta Al-Quran.” “Ya Allah, jaga anak-anak kami. Jadikan mereka kebanggaan orang tua dan masyarakat dengan prestasi dan budi pekertinya yang baik. Jadikan anak-anak kami generasi cinta Quran. Beri kemampuan terbaik bagi Wening, sehingga bulan April tahun depan akan menjadi wisudawati hafidzah Quran. Jadikan dirinya inspirasi bagi adik-adik dan generasi muda di lingkungan kami.”

SUBUH PERTAMA KAMI DI NABAWI

Rasanya tak mau habis waktu sebelum azan Subuh ini. Ya Allah, mengalir deras air mata ini setiap kali bersujud di tempat ini. Jadikan saksi bagi kami di Akhirat kelak. Jadikan ini sebagai sarana kami yang pantas mendapatkan syafaat dari Nabi dan Rasul-Mu Muhammad SAW.

Assalamu'alaika yaa Rasulullah ya Habiballah.

HARI TERAKHIR DI MADINAH
Hari ini, harus berakhir juga kebersamaan dengan kota Nabi yang mulia ini. Tadi pagi, saya dan kawan-kawan bangun jam 02.30. Aktivitas pagi kami seperti biasa, antre mandi dan bergegas ke masjid. Shalat Tahajud kali ini terasa berat. Suasana Nabawi dengan segala kesejukan dan kerapiannya harus berakhir hari ini.

Setelah Subuh, saya coba untuk tetap berdiam diri di masjid sambil menunggu waktu Dhuha. Sementara Bapak-Bapak yang biasa bersama saya lebih dulu bergeser ke Raudah untuk “pamitan” ke Rasulullah. Saat waktu Dhuha tiba, saya keluar masjid dan Shalat Dhuha di halaman. Ada suasana baru yang ingin saya dapatkan, karena biasanya saya selalu shalat di dalam.

Habis Dhuha, saya gunakan waktu untuk berkeliling ke Al- Quran Exhibition yang ada di pintu keluar nomor 5. Rupanya, pameran belum buka. Jadilah saya lanjut keliling di area yang banyak dihuni jamaah dari Turki tersebut. Suasana yang baru lagi karena saya belum pernah lewat di daerah itu. Sampai akhirnya, saya bertemu dengan penjual kebab. Lumayan, kebabnya bisa mengganjal perut sebagai sarapan pagi ini.

Petugas Kloter 34 SOC menginfokan bahwa jamaah sudah harus bergerak ke Makkah tepat pukul 14.00. Praktis, koper dan tas jinjing sudah harus diturunkan sebelum Dhuhur. Semua sibuk dengan aktivitas tersebut.

Sementara itu, saya lihat banyak yang praktik memakai kain ihram. Begitu menjelang jam 11.00, kaki saya sudah bergerak ke masjid untuk Shalat Dhuhur dan sekalian jamak Asar. Untuk menghemat waktu, kami memilih shalat di halaman, di bawah payung raksana yang cukup sebagai pelindung kami dari sengatan matahari siang ini.

Kembali saya merasa berat hati untuk meninggalkan Madinah. Doa saya sebelum kembali ke hotel, “Ya Allah, lapangkan rezeki kami, mudahkan anak cucu kami kelak untuk bisa sujud di kota Nabi-Mu ini. Kami ingin kembali, baik untuk umroh ataupun haji. Kabulkan pula hajat anakku yang ingin kuliah di sini, ya Allah.”

Kembali ke hotel, suasana lobi sudah begitu gaduh. Bus yang akan membawa kami menuju Makkah setelah terlebih dahulu mampir di Bir Ali untuk mengambil miqat, sudah siap sebelum Dhuhur tadi. Suara panggilan dari petugas agar jamaah segera naik bus menambah kegaduhan. Padahal, jam masih menunjukkan angka 13.15. Ibu-ibu yang sudah diinstruksikan agar tidak naik ke ruangan, ternyata malah naik ke ruangan masing-masing. Sampai jam 13.30, urusan tas jinjing belum kelar. Jadilah, kami yang muda dari tiap regu harus pontang-panting mengangkat tas jinjing ke dalam bus.

Tepat jam 13.40, bus bergerak. Berarti 20 menit lebih awal dari jadwal yang direncanakan. Hanya selang 15 menit kemudian, kami sudah tiba di Bir Ali. Semua bergegas shalat sunah ihram dan berniat umroh. Masjid tampak ramai sekali. Maklum, di sinilah miqat yang paling dekat dengan Madinah. Bus kembali berangkat menuju Makkah. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu 5 jam.

Di tengah perjalanan, saya sedikit risau dengan hidung yang mulai meler dan batukbatuk kecil. Wah, ini tanda stamina sudah menurun. Saya coba sebisa mungkin untuk tidur agar nanti cukup stamina untuk thawaf dan sa'i. Di tengah perjalanan, tak diduga mendadak cuaca berubah menjadi buruk. Langit menghitam, lalu hujan turun disertai angin besar. Mungkin inilah yang dinamakan badai gurun. Saya lihat beberapa kali bus berhenti di jalan karena jarak pandang yang terbatas. Bus juga sempat berhenti di sebuah supermarket untuk memberi kesempatan bagi jamaah yang ingin ke toilet dan membeli kudapan. Saya ikut keluar dan sangat terasa debu beterbangan. Suasana makin mencekam karena langit benarbenar gelap.  
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post