Friday, April 6, 2018

PEMBEKALAN HAJI, SEKALI LAGI


Pembekalan Haji, Sekali Lagi - Pagi ini adalah koordinasi akhir persiapan perbekalan yang diadakan rombongan saya. Tepat seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Super lengkap perbekalan yang sudah disiapkan oleh seksi perlengkapan. Kunci koper, pita untuk tanda yang disematkan di koper, tas jinjingan. Tak ketinggalan gayung mandi, gunting untuk keperluan tahalul, beras, colokan listrik, sampai bingkisan untuk supir bus di Saudi pun sudah disiapkan.
Saya salut dengan kinerja tim IPHI, P3H Gatak, ketua rombongan dan ketua regu yang jauh hari sudah menyiapkan semuanya. Mereka dengan tulus melayani semua kebutuhan para jamaah.

“Bapak Ibu calon jamaah haji, kalau ada kekurangan dalam kami menyiapkan semua kebutuhan Bapak-Ibu, saya sebagai Karom siap ditegur,” kata Pak Joko Purwanto, sang ketua rombongan. Penyerahan perlengkapan usai.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian beberapa informasi sekaligus teknik pengumpulan koper. Terdekat, tanggal 1 Agustus 2017, akan ada jadwal pamitan haji di Pendapa Kabupaten Sukoharjo yang diselenggarakan oleh Pemkab Sukoharjo. Di acara tersebut, kabarnya akan ada tambahan bekal berupa lauk pauk dan pembagian jaket seragam khas Sukoharjo. Alhamdulillah. Seakan tak mau ketinggalan, pemerintah tingkat kecamatan pun akan mengadakan acara pamitan haji. Acara akan dihelat pada Jumat siang tanggal 4 Agustus. Sedangkan agenda keberangkatan ke Tanah Suci akan dilaksanakan Hari Ahad, 6 Agustus 2017. Acara akan dimulai ba'da Asar dan jam 17.00 rombongan mulai bergerak ke Pendapa Kabupaten Sukoharjo untuk bergabung dengan jamaah haji se-Kabupaten Sukoharjo. Selanjutnya, rencana keberangkatan dari kabupaten Sukoharjo pukul 19.00 dan dijadwalkan jam 21.00 sudah masuk di Embarkasi Haji Donohudan Boyolali. Rangkaian acara yang lumayan padat sudah menanti, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pembagian living cost, gelang tanda pengenal, dan paspor.

Alhamdulillah, layanan prima bagi jamaah haji yang notabene tamunya Allah sudah mulai dirasakan. Mulai kendaraan sudah disiapkan. Bahkan sampai urusan layanan koper juga demikian. Nantinya ketika pulang jamaah tidak perlu mengurus koper. Koper akan diantar sampai ke rumah masing-masing jamaah. Semua panitia berlomba melayani tamunya Allah, dzuyufur rahman. Alhamdulillah, nikmatnya jadi Rombongan 1. Dari informasi yang diterima, dalam setiap tahapan yang akan dilalui, Rombongan 1 akan selalu dipanggil pertama kali. Mulai dari naik bus, antrean pemeriksaan kesehatan, pembagian living cost, dan seterusnya. Pembagian tempat duduk pesawat juga demikian. Rombongan 1 akan dapat jatah tempat duduk di pesawat paling depan.

Semua rangkaian manasik, check, dan recheck perlengkapan yang akan dibawa sudah dilakukan. Doa-doa untuk kelancaran perjalanan sudah dipanjatkan. Sebaik-baiknya bekal adalah taqwa yang patut dikedepankan.

PEMBEKALAN HAJI, SEKALI LAGI

BAHAGIANYA BISA BERHAJI

Ketika dulu kita masuk usia dewasa, pasti pada akhirnya merindukan pasangan. Ketika sudah bertemu pasangan, pastilah bahagia. Ketika sudah menikah, pastilah merindukan momongan. Ketika sudah mendapatkan momongan, pasti bahagialah kita. Begitu seterusnya. Namun, di antara perasaan bahagia itu, tidak ada yang sebanding dengan bahagianya ketika bisa pergi berhaji. Air mata sangat mudah meleleh. Kapan dan di mana pun berada. Inilah rahasia dan kebahagiaan yang diberikan oleh Allah bagi hamba- Nya yang berhaji.

“Di antara perasaan bahagia itu, tidak ada yang sebanding dengan bahagianya ketika bisa pergi berhaji. Air mata sangat mudah meleleh. Kapan dan di mana pun berada.” Hari ini kegiatan saya berjalan seperti halnya hari-hari biasa. Bangun tidur masih rutin satu jam sebelum waktu Subuh tiba. Alhamdulillah, di masjid sekarang sedang diadakan gerakan Subuh berjamaah yang memasuki pekan kedua. Walau belum maksimal, tapi jumlah jamaah sudah lebih dari separuh shaf masjid.

Kegiatan berikutnya, saya bergabung dengan warga untuk bergotong-royong bersih-bersih lingkungan sekaligus memasang umbul-umbul. Selepas jam 10 pagi, saya mencoba mencarikan kelengkapan roda sepeda anak ketiga saya. Ia sekarang sedang senang-senangnya main sepeda. Akhirnya, tidak hanya roda sepeda saja yang saya dapatkan. Saya malah sekalian belikan satu buah sepeda mini lagi agar bisa dipakai temannya. Dengan demikian, saya yakin ia bisa melupakan Bapaknya untuk beberapa saat. Selepas Dhuhur, saya berusaha istirahat sejenak. Alhamdulillah, saya sudah lumayan terbiasa tidur sejenak selama 30 menit. Lumayan sudah segar kembali badan ini. Praktis, setelah itu ada pengecekan kembali perbekalan di tas jinjing dan koper.

Tepat jam 14.00, saya ambil wudhu dan Shalat Safar. Yaa Allah, nikmat sekali Shalat Safar kali ini. Terakhir kali, 10 tahun yang lalu saya mengerjakan shalat ini saat Pergi Haji akhir 2006. Begitu takbiratul ihram, saya tidak bisa menahan lagi air mata untuk jatuh.

“Ya Allah, kepada-Mu aku menghadap, dan dengan-Mu aku berpegang teguh. Ya Allah, lindungilah aku dari sesuatu yang menyusahkan dan sesuatu yang tidak kuperlukan. Ya Allah, bekalilah aku dengan taqwa dan ampunilah dosaku.”

Saat mengharukan itu pun tiba, saat saya berpamitan dengan istri.
“Mi, doakan Pipi dan Mbak Wiwik ya. Insya Allah semua akan dilancarkan Allah. Jaga anak-anak ya, Mi.” Sambil menggendong Syameema anak keempat kami yang masih tiga setengah bulan, istri saya tak kuasa menahan dan langsung menangis sejadi-jadinya. “Hati-hati ya Mas, jaga Mbak Wiwik,” pesannya.

“Insya Allah anak-anak kita kelak akan jadi mulia semua, Mi. Kita sudah merawat dan mendidiknya dengan benar. Alhamdulillah selama ini kita diberi kemampuan untuk membantu saudara-saudara kita. Insya Allah, anak-anak kita kelak yang akan memanen hasilnya. Kapan-kapan kita ke Tanah Suci lagi untuk umroh,” bisik saya. Masih dengan tangis dan basah air mata, istri saya menyambung, “Besok kalau Meema sudah besar saja, Pi. Aku ndak tega ninggalin Meema.”

Di saat bersamaan, rupanya halaman kami sudah penuh dengan tetangga yang ingin mengantarkan keberangkatan saya dan kakak saya. Satu per satu tetangga memeluk dan mendoakan kami. Kepada tetangga saya berpesan, “Budhe, Pakdhe, tolong jaga anak-anak saya. Kalau sore tolong anak-anak diajak mainmain ke rumah biar anak-anak saya senang dan ndak mencari Bapaknya.

” Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Kami datang dengan doa-doa kami, hajat-hajat kami. Hanya Engkau yang sanggup menjawab dan memenuhinya. Kami datang ke Tanah Suci-Mu penuh dengan masalah dan beban kami. Hanya Engkau yang sanggup mengurai dan menyelesaikannya. Engkaulah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu dan meminta.”  
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post