Monday, April 16, 2018

PASUKAN TELAT ASAR JADI IMAM SHALAT DI MASJID NABAWI

Pasukan Telat Asar Jadi Imam Shalat di Masjid Nabawi - Bangun,,,bangun. Ayo siap-siap Shalat Asar,” begitu kata Pak Mursidi membangunkan kami di kamar. Ada Pak Joko, Pak Sonny, Mbah Mudjito, Pak Partono, dan saya di kamar itu. “Jam berapa, Mas Wantik?” tanya beliau. Sahut saya, “Jam 15.30, Mbah. Jadi, masih ada 30 menit sampai ke azan Asar.” “Ayo lekas gantian wudhu biar tidak seperti Dhuhur tadi kita kebingungan cari tempat karena sudah penuh,” saran Pak Mursidi. Mbah Mudjito yang pertama selesai wudhu disambung Pak Sonny. Kini giliran Pak Partono yang wudhu. Mbah Mudjito ke luar ruangan untuk bertemu dan berbincang dengan istrinya di depan pintu kamar kami, nomor 716. Sementara itu, saya dan Pak Joko menunggu giliran wudhu. Seperti disambar petir, Mbah Mudjito kembali ke kamar dan menanyakan lagi ke saya. “Mas Wantik, ini ibu-ibu sudah pada pulang dari masjid habis Shalat Asar,” ujarnya dengan wajah khawatir. “Hah, yang benar?” tanya saya. Ternyata benar, jam di handphone saya menunjuk angka 17.30 bukan 15.30.

Semua terbengong. Ya Allah, kami ketinggalan Shalat Asar berjamaah. Bagaimana dengan arba'in kami? Saya berusaha menenangkan dan menghibur hati teman-teman satu kamar saya ini. “Tenang Pak, kita masih punya cukup waktu untuk mengejar 40 shalat. Karena besok menurut jadwal, kita akan berangkat ke Makkah tanggal 16 Agustus sore. Ini berarti, kita punya 42 shalat. Jika hari ini kita kehilangan 1 shalat, berarti masih ada 41 shalat lagi. Kita tadi sudah dapat 1 Shalat Dhuhur, berarti masih ada kesempatan untuk tetap dapat 40 shalat. Shalat Arbain memang menjadi magnet tersendiri ketika berada di Madinah selain bisa berziarah ke makam kekasih Allah, kanjeng Nabi Muhammad SAW. Memang ada hadits yang menyatakan “Siapa yang shalat 40 shalat di masjidku maka surga baginya.” Selain itu, tentu iming-iming siapa yang shalat di Masjid Nabawi akan berpahala 1000 pahala jika dibanding dengan selain Masjid Nabawi juga menjadi pendorong semua jamaah untuk bersemangat shalat berjamaah di Nabawi. “Ya sudah, ayo segera gantian wudhu untuk Shalat Asar berjamaah di masjid. Nanti tidak usah balik, langsung menunggu Magrib dan Isya berjamaah saja,” komando Mbah Mudjito yang pernah berhaji di tahun 1992 itu.

Begitu semua selesai wudhu, segera kami bergegas ke masjid. Mendadak ada panggilan dari kakak saya. “Mas, tunggu aku. Ibu-ibu mau ke masjid belum tahu jalannya.” Spontan saya jawab, “Maaf, Budhe.Ini kami ketinggalan Shalat Asar, sekarang mau ke masjid untuk Asar dulu. Nanti kalau mau ke masjid bareng dengan ibu-ibu saja,” tutur saya bergegas. Jadilah kini kami berenam mengambil langkah cepat menuju masjid.

Ketika sudah di lift turun dari Lantai 7 sampai di lantai dasar, mendadak Pak Mursidi memecah suasana yang tengah buru-buru ini, “Lha kok aku lupa ndak bawa sandal ini?” tuturnya. Semua orang terbengong untuk kedua kalinya. Campur-campur perasaan antara kasihan dan agak mendongkol. Kasihan kok ya bisa lupa, dan agak medongkol jika harus kembali ke kamar lagi, sedang posisi sudah di lantai dasar dan mengejar waktu Asar.

PASUKAN TELAT ASAR JADI IMAM SHALAT DI MASJID NABAWI

Akhirnya, kami putuskan untuk terus berjalan saja. Nanti beli sandal, di jalan pasti ada. Kembali langkah cepat diambil. 'Pasukan Telat Asar' ini menuju Nabawi sambil tengok kanan-kiri mencari penjual sandal. Radius 100 meter berlalu, belum tampak. Yang ada hanya toko sajadah, kurma, dan pakaian. Kira-kira 300 meter dari hotel, alhamdulillah ada pasar. Sepertinya, belum lama berdiri. Ketika saya umroh Ramadhan 2014 lalu, pasar ini belum ada. Dan sepertinya, untuk menampung para pedagang kecil dengan gerobak yang biasa menjajakan dagangan di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi.

Tiap hari mereka umpet-umpetan dengan askar yang siap menghalau, bahkan tak segan mengobrak-abrik dagangannya, karena dianggap membuat kemacetan. Semua barang ada di pasar baru ini. Termasuk kurma, sajadah, buah-buahan, dan tentu saja target buruan kami: sandal. Saya lihat sandal warna putih yang saya perkirakan harganya terjangkau.  “Tolong Mas Wantik, tanyakan harganya berapa,” kata Pak Mursidi. Saya tanya ke penjualnya, “Kam?” Dia jawab, “Khamsa riyal.” Benar, harganya terjangkau, hanya 5 riyal. Pak Mursidi lega akhirnya dapat sandal untuk menahan kakinya dari aspal yang saya yakin panas karena suhu hari ini 43 derajat Celcius.

Tak lama, kami sampai juga di pelataran Masjid Nabawi. Sebagai tanda menuju dan pulang masjid, kami selalu masuk lewat pintu gerbang pagar nomor 7 dan pintu Masjid Nabawi nomor 8. Tinggal lurus saja sudah sampai di hotel kami. Segera kami ambil posisi untuk Shalat Asar berjamaah. Tak sadar ternyata kami shalat di depan galon Air Zamzam.

Mbah Mudjito menunjuk saya untuk jadi imam. Ya Allah, kesampaian juga saya jadi imam shalat di masjid Kanjeng Nabi ini. Setelah shalat, kami dihalau oleh askar yang sejak tadi sudah menunggu saat kami shalat. Rupanya, kami tidak boleh shalat di pinggir jalan karena menghalangi jamaah yang baru datang ke masjid.

PENCURI DI TANAH SUCI
Pak Partono bikin berita lagi. Kalau kemarin beliau hilang dari rombongan, kali ini ia kehilangan uang living cost yang diterima di embarkasi haji Donohudan. “Wah, uangku hilang,” begitu katanya yang membuat makan siang kami hari ini terhenti sejenak. “Berapa Pak? Terakhir naruhnya di mana?” tanya Pak Sonny. “1.500 riyal. Masih utuh dari living cost kemarin. Terakhir ya aku taruh di tas paspor. Ini sudah aku ubrek tidak ada,” katanya dengan raut agak panik. “Jangan-jangan lupa naruhnya, Pak,” sambung saya sambil menyantap jatah makan siang dengan sayur buncis dan lauk ayam goreng.

Mbah Mudjito yang paling sepuh pun ikut nimbrung, “Digoleki sik, dieling-eling neng ngendi nyimpene. Yen ora ketemu, kabeh kene melu prihatin lho,” sarannya. “Aku juga tidak enak, tidurku bersebelahan langsung,” sambung Pak Mursidi. Setelah selesai makan, Pak Partono mencoba mencari-cari uangnya kembali di tas jinjing dan tas paspor. Namun, uang itu juga tak ditemukannya. Mendadak dia berucap, “Sik-sik, neng kaos kok enek kresekkresek. Jangan-jangan ini,” katanya sambil meraba-raba kaos singlet yang ada di kantongan dengan resleting di depan itu. “Oh, ternyata di sini, tidak jadi hilang,” ujarnya gembira. “Lha, tenan to, mesti lupa yang naruh saja,” serentak semua jadi riuh.

Mbah Mudjito bangkit dari duduknya, mendekati Pak Partono, dan mengulurkan tangannya. Tanda ia mengajak tos. “Yang hati-hati nyimpannya. Jangan lupa lagi,” sambung beliau. Setelah makan siang, kembali ada berita kehilangan uang. Kali ini benar-benar hilang, tak seperti Pak Partono yang lupa menaruhnya. Ada teman jamaah yang kehilangan uang sebanyak 1.200 riyal juga dari uang living cost. Uang saku yang dia bawa masih disimpannya di tas paspor. Sedang uang dari pengembalian untuk living cost dipindahkannya ke tas jinjing. Uang yang di tas jinjing inilah yang hilang.

Ternyata, di Tanah Suci juga ada pencuri. Saat koordinasi Karom dan Karu tadi, kembali semua jamaah diingatkan untuk senantiasa berhati-hati. Pintu kamar harus dipastikan terkunci saat ditinggal ke masjid. Lebih baik semua barang berharga ditaruh di tas paspor, yang senantiasa menempel di badan.

Belum selesai rupanya, teman jamaah saya yang masih satu kloter juga kehilangan semua uang riyalnya. Totalnya sekitar Rp4 juta. Masya Allah, banyak banget. Diperkirakan hilangnya uang terjadi saat ziarah ke Masjid Quba. Saat akan memberi sedekah ke pengemis, sepertinya dompet tempat dia menaruh uang terjatuh dan tidak diketahuinya. Hebatnya, dia sudah mengikhlaskan kejadian ini. Dia yakin akan mendapat ganti yang lebih banyak besok kalau sudah pulang haji.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post