Thursday, April 5, 2018

PAMITAN HAJI, TONGGAK AWAL PERJALANAN


Pamitan Haji, Tonggak Awal Perjalanan - Setelah thawaf wada' atau thawaf perpisahan sebelum meninggalkan Tanah Suci di haji 2007, salah satu doa yang saya lantunkan dengan penuh harap adalah “Ya Allah, lapangkanlah rezeki hamba, izinkanlah hamba bisa mengajak saudara hamba bersujud di rumah-Mu ini, di Tanah Suci-Mu ini.”  Alhamdulillah, di bulan Maret 2011 saya sudah dimampukan Allah untuk kembali mendaftar haji. Kali ini saya turut mendaftarkan Wiwik, kakak saya. Setelah saya berhaji dengan istri dan ibu saya di 2007, rasanya saya masih punya urusan yang belum selesai kalau belum menghajikan kakak saya. Saya meyakini bahwa saya bisa di posisi saya seperti saat ini adalah juga karena jasa orang-orang dekat saya. Di antaranya orang tua, istri, dan kakak-kakak saya. Sebenarnya saya ingin menghajikan 2 kakak saya sekaligus, tetapi kakak tertua saya masih belum mau dengan alasan takut naik pesawat. Sampai saat ini saya masih terus merayu dan meyakinkannya, tetapi belum berhasil. Saya yakin, begitu besar jasa seorang kakak terhadap adika-diknya. Siapa yang menggendong kita saat kecil, menyuapi makan, mengajak bermain, mengajari berhitung, membaca, menolong saat kita menangis, selain ayah dan ibu kita? Rasanya tak cukup hanya berucap terima kasih saja. Saya mencari cara untuk membalas jasa dan akhirnya ketemu jalannya, yakni menghajikan beliau. Ini sama persis seperti yang saya lakukan untuk istri dan ibu saya yang lebih dulu saya ajak berhaji di tahun 2007. Seperti janji Allah dan rasul-Nya bahwa balasan dari haji yang mabrur tiada lain yakni surga. Saya ingin membalas beliau-beliau dengan surga.

Ahad, 23 Juli 2017 kemarin, saya begitu terbawa emosi dan keharuan ketika mengucapkan kata pamitan kepada tetangga, jamaah masjid, dan keluarga yang saya undang di acara walimatussafar haji saya. Saya begitu bergetar dan tak kuasa menahan tangis saat saya membaca talbiyah, kalimat yang menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya melebihi apa pun yang dia miliki di dunia ini. Labbaik allahumma labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang.

Saya sampaikan ke semua tamu undangan yang hadir bahwa saya merasa beruntung karena Allah begitu murah hati kepada saya. Allah begitu mudah dalam menjawab doa-doa saya. Kini sampailah saat di mana saya harus berucap pamit untuk kembali memenuhi undangan-Nya. Dalam kata pamitan saya kemarin, paling tidak saya menyampaikan 3 hal. Pertama permintaan maaf saya dan kakak saya kepada semua saudara, tetangga dan jamaah atas semua salah, khilaf, dan dosa. Saya meyakini pemberian maaf ini akan memudahkan dan meringankan saya dalam berhaji nanti. Kedua, saya memohon doa agar saya dan kakak saya besok diberi kesehatan dan kelancaran sehingga bisa menyelesaikan semua yang menjadi rukun, wajib, dan sunah haji. Dan ujungnya, pasti mohon didoakan agar mampu meraih haji yang mabrur, predikat terbaik dari seseorang yang berhaji.

“Bapak, ibu yang saya hormati, dalam berhaji kali ini saya harus meninggalkan keluarga saya. Anak saya masih kecil dan bayi, juga ibu saya saat ini sedang sakit dan masih harus dalam pengawasan dokter. Saya titip keluarga saya, kalau sewaktu-waktu keluarga saya membutuhkan bantuan dan pertolongan, sudilah Bapak dan Ibu dengan ringan tangan dan senang hati untuk menolongnya.”

Inilah menurut saya hakikat dari kalimat talbiyah. Kalau Allah sudah memanggil maka kita harus segera memenuhi panggilan-Nya. Harus siap meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta benda, dan semua yang dicintai. Semua hal yang selama ini kita merasa memilikinya, padahal sebenarnya semua hanyalah titipan dan ujian dari Allah. Rasanya, tak ada alasan untuk tidak bersegera berhaji kalau kita tahu dan paham seperti apa janji-janji Allah bagi siapa saja yang berhaji.

Setidaknya seperti itulah tausiyah yang disampaikan KH. Muklis Hudaf dari Klaten yang saya undang untuk mengisi tausiyah di walimatussafar kemarin. “Kalau Allah sudah memanggil maka kita harus segera memenuhi panggilan-Nya. Harus siap meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta benda, dan semua yang dicintai. Semua hal yang selama ini kita merasa memilikinya, padahal sebenarnya semua hanyalah titipan dan ujian dari Allah.”

Setiap kali saya punya hajat, hampir pasti saya mengundang beliau. Seorang ulama yang 'alim, teduh, setiap kalimat yang terucap dari lisan beliau rasanya semua berbobot. Tidak banyak canda yang sampai mengundang tawa seperti kebanyakan mubaligh saat ini. Di awal tausyiah-nya, Kyai Muklis, begitu biasa saya menyapa beliau, dikatakan bahwa acara walimatussafar haji ini adalah mengikuti perintah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Jika salah seorang kalian keluar ber-safar maka hendaklah ia berpamitan kepada saudaranya. Karena Allah menjadikan pada doa mereka berkah.”

Orang Pergi Haji pastilah penuh risiko. Dari Indonesia naik pesawatnya saja bisa lebih dari 11 jam. Jika kita bepergian naik mobil dan mobil tersebut rusak maka dengan mudah kita bisa menepi dan mencari bengkel atau memperbaikinya. Bagaimana kalau yang rusak pesawat terbang? Tentu akan lain ceritanya. Di sinilah pentingnya doa. Doa akan beradu kuat dengan takdir. Takdir tidak akan terjadi apabila doanya lebih kuat. Doa akan lebih kuat apabila dilakukan bersama-sama. Jadi apabila beberapa orang tidak terkabul doanya, tetapi ada satu atau dua orang lainnya yang doanya diperkenankan oleh Allah maka doanya akan diterima Allah. Doa juga akan lebih dahsyat apabila diiringi dengan sedekah.

Balasan bagi orang Pergi Haji yang pertama adalah akan dihapuskan semua dosanya. Seberapa pun banyak dosanya. Dia akan kembali laksana seorang bayi yang baru lahir. Sebuah balasan yang luar biasa.

PAMITAN HAJI, TONGGAK AWAL PERJALANAN

Sambil bercanda, Kyai Muklis menanyakan kepada semua tamu yang hadir, “Sudah berapa banyak dosa yang Bapak dan Ibu kumpulkan setelah bulan Ramadhan kemarin? Sedikit atau banyak?” Setiap dosa pasti akan ada balasan siksa. Padahal, siksa paling ringan yang ada di neraka adalah apabila sebuah bara api diletakkan di bawah telapak kaki seseorang maka saat itu pula akan mendidih otaknya. Sudah tidak ada siksa yang lebih ringan dari itu. Apabila dosa seseorang 1 juta maka dia akan merasakan 1 juta kali otaknya mendidih. Apabila dosanya 1 miliar maka 1 miliar kali pula dia merasakan otaknya mendidih.

Subhanallah, ganjaran seseorang berhaji yang pertama dosanya akan dihapus. Diampuni semua dosanya sehingga terbebas dari siksa di neraka. Lalu balasan bagi orang Pergi Haji yang kedua adalah doanya dikabulkan oleh Allah. Maka siapa saja yang berhaji sangat dianjurkan untuk banyak berdoa. Sedangkan yang tidak sedang pergi berhaji dianjurkan untuk menitip doa kepada saudara atau temannya yang sedang berhaji. Bahkan Nabi Muhammad SAW melakukan hal tersebut saat sahabat Umar berpamitan ke beliau saat akan berhaji. Beliau berpesan, “Sebutlah kami dalam doamu, wahai Umar.” Ini bukan berarti doanya Nabi Muhammad SAW kalah mustajab dari sahabat Umar. Namun, inilah ajaran beliau bahwa sesama Muslim harus saling mendoakan dalam kebaikan dan doanya orang yang sedang berhaji sangat diijabah oleh Allah. Kyai Muklis lalu menyambung,”Bapak Ibu sudah menitip doa ke Pak Wantik, belum?”

Yang ketiga, Allah akan mengganti setiap rupiah yang dikeluarkan untuk berhaji dengan bilangan yang jauh lebih banyak. Sabda Nabi Muhammad SAW, “Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah. Allah akan memberi apa yang mereka minta, akan mengabulkan doa yang mereka panjatkan, akan mengganti biaya yang telah mereka keluarkan dan akan melipat-gandakan setiap 1 dirham menjadi 1 juta dirham.” Kalau saat ini biaya ONH (Ongkos Naik Haji) dan uang saku misal totalnya 35 juta, berapa 35 juta kali 1 juta? “Pak Wantik, gantinya dari Allah yang segitu banyak akan diminta uang semua atau dengan yang lain?” canda Kyai Muklis.
Tentulah Allah yang paling mengetahuinya. Bisa jadi kita akan diganti dengan kelonggaran rezeki, kesehatan, diganti dengan kemudahan semua urusan dan lain sebagainya. Dan bisa jadi ganti tersebut akan diberikan ke anak cucu kita kelak. Wallahu a'lam.

Ganjaran bagi orang yang berhaji yang keempat adalah dia diberi hak oleh Allah bisa memberi syafa'at bagi 400 orang keluarganya. Masya Allah, begitu istimewanya orang yang berhaji sampai-sampai Allah memberi hadiah yang satu ini.

Kelima, diampuni dosanya yang ke sesama manusia. Urusan dosa dengan Allah lebih mudah diselesaikan. Asal kita benar-benar taubat maka Allah pasti mengampuni dosa-dosa kita karena Dia Maha Menerima Taubat dan Maha Mengampuni. Justru yang lebih sulit adalah dosa yang hubungannya dengan sesama manusia. Sulit ditebak. Sepertinya sudah selesai, tetapi ternyata belum benar-benar memberi maaf karena masih belum tulus atau bahkan masih ada rasa sakit hati. Dengan berhaji, dosa-dosa, baik yang urusan dengan Allah ataupun dengan sesama manusia, semua diampuni.

Rupanya belum cukup ini saja penghargaan dari Allah untuk orang yang berhaji. Yang selanjutnya adalah, mereka dihitung sebagai tamunya Allah, dzuyufur rahman. Sungguh istimewa. Bisa dibayangkan kalau kita diundang jadi tamunya raja atau presiden, pastilah kita sangat senang dan bangga. Saking bangganya, foto saat kita bersalaman atau saat sedang diterima sang presiden kita pajang di ruang tamu dan kantor kita. Padahal hal seperti ini tingkatnya masih sama, sama-sama manusia yang pasti masih punya banyak kelemahan dan kekurangan. Tetap saja dia juga seorang makhluk, bukan khalik.

Jika Allah yang mengundang, pasti Dia juga sudah menyiapkan jamuan terbaik untuk semua tamunya. Kita akan merasa sangat dekat dengan Allah saat berada di Tanah Suci-Nya. Ringan dalam sedekah, shalat jamaah di masjid, tilawah Quran. Ditambah lagi mudahnya hati kita merasa terharu bahkan menangis saat berdoa, saat mendengarkan lantunan Ayat Suci dari imam saat shalat berjamaah, saat wukuf, thawaf,saat ziarah ke makam Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan masih banyak lagi lainnya. Perasaan mudah haru dan tentunya bahagia ini tidak mudah kita dapatkan saat kita berdoa dan beribadah di tempat lainnya. Sebaliknya, sebagai tamunya Allah, tentu kita juga harus bisa membawa diri. Menjaga sikap tawadu' dan penuh harap. Menjauhi semua yang sudah jelas-jelas diatur. Yakni fusuq, rafas, dan jidal. Ingat, kita adalah tamu dari Yang Maha Suci, Yang Maha Segalanya.

Ganjaran bagi orang yang berhaji yang terakhir dan ini adalah yang sudah sering kita dengar. “Balasan haji mabrur tak lain dan tak bukan ialah surga. Surga yang luasnya langit dan bumi,” tutur Kyai Muklis. Boleh dikata, modal 35 juta tapi balasannya adalah surga. Mestinya, ini mendorong semua orang lebih semangat untuk segera berhaji. Surga yang luasnya langit dan bumi ini syaratnya hanya satu, yakni mabrur. Persoalannya, mabrur dan tidaknya haji seseorang ini tidak diumumkan setelah haji selesai, namun kelak di Akhirat. Untuk itu, tidaklah pantas kalau setelah haji sikap kita malah jadi petentang-pejinjing, congkak, dan merasa lebih baik dari lainnya. Walaupun mabrur dan tidaknya haji seseorang belum diketahui saat ini, tapi ada beberapa tanda bahwa haji seseorang tersebut mabrur. Di antaranya, setelah berhaji dia lebih suka bersedekah. Dia jadi dermawan, loma. Cocok dengan ciri para ahli surga yakni dermawan. Tidak ada tempat di surga bagi orang yang pelit. Ciri yang kedua dan ketiga haji yang mabrur adalah dia tidak mudah marah, tutur katanya sopan. Sikapnya jadi lebih bijaksana. Terjadi perubahan positif dalam sikap dan tindak tanduk kesehariannya. Dia jadi panutan di tengah masyarakat. Wallahu a'lam.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post