Wednesday, April 4, 2018

DI LAMBUNG GARUDA KAMI BERDOA

Di Lambung Garuda Kami Berdoa - Pesawat garuda yang membawa 355 calon jamaah haji Kloter 34, siap tinggal landas meninggalkan Bandara Adi Sumarmo menuju Madinah. Nantinya, pesawat akan singgah sejenak di Padang, Sumatera Barat. Solo-Padang akan ditempuh dalam waktu sejam 50 menit. Suasana kabin riuh karena jalan di lorong macet. Semua berusaha mencari tempat tas jinjing dan ingin tukar tempat duduk. Yang suami istri tentu ingin duduk bersebelahan. Akhirnya, dengan sigap, pramugari mengarahkan untuk duduk sesuai dengan nomor kursi masing-masing dulu. Setelah semua sudah duduk, barulah bisa bertukar nomor kursinya. Saya tak butuh waktu lama untuk langsung molor. Rupanya tidak hanya saya yang kecapekan. Semua merasakan hal yang sama. Sebelum landing di Padang untuk pengisian bahan bakar, tiba-tiba saya dibangunkan kakak saya, “Mas, ini aku mau mabuk,” keluhnya. Dalam batin saya, wah ini karena efek belum pernah naik pesawat. Sejenak langsung saya carikan plastik yang sudah tersedia di depan tempat duduk. Rupanya suara percakapan saya terdengar oleh tim medis yang duduk di depan tempat duduk kakak saya. Dengan cekatan mereka memberi layanan pertolongan.

Sekitar sejam mengudara dari Padang, tiba-tiba saya dibangunkan lagi. “Ada apa ini?” batin saya. Oh, rupanya keluar hidangan snack yang pertama. Isinya lumayan lengkap. Ada roti, jenang Kudus, dan jus. Rasa kantuk yang berat mengalahkan rasa ingin makan. Mosok tengah malam seperti ini makan? Saya lebih memilih minum air mineral saja dan lanjut molor lagi. Tamu-tamu Allah benar-benar dilayani dengan sangat baik oleh maskapai Garuda. Saking wah-nya sampai saya pikir berlebih.

Sekitar tiga jam dari waktu keluarnya snack, gantian makan besar yang disajikan. “Mau makan apa, Pak? Ada ayam dan ikan goreng pilihannya,” tanya pramugari yang berseragam jingga itu. Kali ini, saya tidak kuasa menolak. Hidangan nasi dengan lauk ikan yang saya pilih. Karena waktunya yang tidak biasa untuk makan, saya hanya makan separuh porsi. Setelah itu, saya kembali terlelap. Tiga setengah jam sebelum waktu pendaratan, keluar makan lagi. “Seperti ini lho Pak, jadi tamu Gusti Allah itu.Semua ingin melayani dan memuliakan. Ini baru manusia, tentu kelak para malaikat dan Allah lebih pintar memuliakan kita,” tutur saya. “Ini kok makan dan tidur saja, ya, acaranya?” pikir saya. Kali ini yang ditawarkan adalah ayam dan daging. Tak ketinggalan juga berbagai jenis minuman yang bisa dipilih. Saya lirik Pak Wahono, teman satu rombongan yang duduk di sebelah saya. Beliau pesan jus jeruk. Di tengah makan yang belum rampung, beliau pesan susu segar. Setelah makan kelar, saya berbisik ke Pak Syawali yang duduk di sebelah kanan saya. “Seperti ini lho Pak, jadi tamu Gusti Allah itu. Semua ingin melayani dan memuliakan. Ini baru manusia, tentu kelak para malaikat dan Allah lebih pintar memuliakan kita,” tutur saya. “Nggih, Pak. Leres,” jawab beliau yang juga sudah pernah Pergi Haji tahun 2008 lalu.

Ketika para pramugari bertugas mengemasi tempat makan, rupanya Pak Wahono masih ingin minum lagi. Kali ini, kopi hitam yang jadi pilihannya. “Mantap Pak Wahono, tadi sudah jus jeruk, susu segar. Kali ini penutupnya kopi hitam tanpa gula,” kelakar saya. “Wah, rupanya direkam Mas Wantik,” timpalnya. Saya pun tertawa.

Waktu menunjukkan angka 07.36 WIB, saya lihat posisi pesawat ada di atas Abu Dhabi. Pimpinan awak kabin mengumumkan bahwa saat ini sudah memasuki waktu Subuh. “Assalamu'alaikum dzuyufurahman yang berbahagia. Saat ini kita berada di titik di mana memasuki waktu Subuh dan tentu hanya Allah yang mengetahuinya,” terang awak kabin. Setelah azan dikumandangkan, saya persilakan Ketua Kloter untuk memimpin Shalat Subuh berjamaah dengan diawali tayamum.

DI LAMBUNG GARUDA KAMI BERDOA

PAK PARTONO HILANG
Tepat pukul 05.25, pesawat mendarat dengan mulus. Ya Allah, lega rasanya setelah 11 jam ada di udara. Alhamdulillah perjalanan berjalan mulus. Hanya beberapa kali ada guncangan kecil ketika hendak landing di Bandara Padang. Saya perhatikan, banyak jamaah tertidur pulas karena sudah kecapekan sebelum terbang. Madinah menjadi kota yang sangat saya cintai. Selain dikenal sebagai kota Nabi, kota ini adalah kota yang sejuk dan penuh dengan kedamaian. Di sinilah Nabi tinggal dan berdakwah selama 10 tahun setelah hijrah dari Makkah. Di Madinah pula beliau wafat dan dikebumikan bersanding dengan dua sahabat dekatnya, Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khatab.

Nabi sangat mencintai Madinah. Saking cintanya, beliau berdoa kepada Allah agar kota Madinah diberkahi dua kali lebih besar daripada keberkahan yang Allah berikan untuk Kota Makkah. Selain dipenuhi dengan keberkahan, Madinah juga dijamin sebagai kota yang aman. Kelak, jika saatnya Dajjal muncul di muka bumi ini, hanya dua kota yang Allah haramkan untuk dimasuki Dajjal: Madinah dan Makkah.

Setiap jamaah haji dari Indonesia pasti dijadwalkan mengunjungi Madinah, meskipun itu tidak termasuk dari wajib atau Rukun Haji. Di Madinah, jamaah bisa melakukan shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Masjid Nabawi memiliki arsitektur menawan, karpet yang senantiasa bersih, pendingin ruangan yang pas, sehingga menjadikan jamaah betah berjam-jam di dalamnya. Masjid ini juga memiliki kubah yang bisa dibuka dan ditutup dengan otomatis. Puluhan payung raksasa di halaman masjid menambah kecantikan tersendiri.

Masjid Nabawi adalah masjid yang diistimewakan Allah. Shalat di Nabawi berpahala 1000 kali jika dibanding dengan masjid lainnya kecuali Masjidil Haram di Makkah. Di Masjid Nabawi pula jamaah bisa melakukan Shalat Arbain yakni shalat berjamaah selama 40 shalat berturut-turut. Nabi menjanjikan kepada siapa saja yang mampu melaksanakannya dengan imbalan kebebasan dari neraka.

Di dalam Masjid Nabawi, ada tempat yang istimewa, Nabi menyebutnya 'Raudah'. Kata beliau, “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman surga.” Tempat ini sangat mustajab untuk berdoa. Raudah ini adalah salah satu daya tarik tersendiri di Nabawi. Tak heran jika jamaah rela berdesakan dan mengantri berjam-jam untuk bisa masuk dan berdoa di sana.

“Kuburkan aku di sini. Aku melihat surga di sini,” begitu pesan Nabi sambil menunjuk rumahnya itu. Raudah ditandai dengan karpet yang agak putih ornamennya. Tempat ini adalah sumber ketentraman. Jamaah meyakini rumah Nabi itu merekam segala hal terbaik yang dimiliki Nabi. Rekaman itu menggetarkan siapa saja yang memasukinya hingga saat ini. Tak heran siapa pun yang memasuki, shalat, atau berdoa di tempat ini akan sangat mudah terharu dan menangis. Siapa pun dia.

Masih di Masjid Nabawi, jamaah bisa berziarah ke makam Nabi SAW dan dua sahabat beliau, Abu Bakar dan Umar. Kata Nabi, “Siapa yang menziarahi kuburku maka wajib baginya syafaat-ku.” Kepada siapa kelak kita akan berharap pertolongan di hari yang tidak ada pertolongan selain dari Allah? Jawabnya tak ada lain kecuali kita berharap syafaat dari manusia kekasih Allah tersebut.

Di Madinah, terdapat banyak tempat bersejarah yang bisa dikunjungi jamaah. Tempat-tempat tersebut di antaranya adalah Makam Baqi, Jabal Uhud, Masjid Quba, dan Masjid Qiblatain. Madinah juga dikenal sebagai penghasil buah kurma terbaik. Salah satunya adalah kurma ajwa, kurma Nabi yang disebut mempunyai khasiat dapat menangkal racun dan sihir. Hal ini tentu amat sayang untuk dilewatkan.

Pertama kali saya mendarat di Bandara Madinah, sekilas saya lihat bandaranya tak lebih besar dari Bandara Jeddah. Namun, Bandara Madinah lebih rapi. Kelebihan lainnya, di sini ada terminal khusus berpenyejuk udara untuk menunggu rombongan yang dibuat terpisah dari terminal pemeriksaan paspor. Antrean panjang di terminal pemeriksaan paspor memaksa proses ini makan waktu lebih kurang dua jam. Proses pemeriksaan paspor saya termasuk lancar.

Setelah menyerahkan paspor, petugas hanya meminta sidik jari tangan kanan dan kiri, lantas saya diminta melihat ke kamera untuk difoto. Lepas itu saya langsung bisa berlalu. Sambil menunggu kelengkapan jamaah satu kloter, saya manfaatkan waktu untuk mengaktifkan paket internet dan telepon. Alhamdulillah, provider yang saya pakai tarifnya lumayan mahal, Rp940 ribu all in selama 40 hari, dengan kuota internet 15 GB, 160 menit telepon, dan 60 SMS. Perjalanan dengan bus kelas Eropa dari bandara ke hotel hanya makan waktu sekitar 30 menit saja.

Kami menginap di hotel yang berjarak kurang lebih 400 meter dari Masjid Nabawi. Akses untuk mencapai masjid cukup mudah karena hanya lurus saja dari pelataran hotel sudah terlihat payung-payung yang ada di halaman Masjid Nabawi. Lumayan lama kami menunggu proses pembagian kamar. Suasana lobi hotel pun gaduh.

Koper-koper dan jamaah menumpuk. Maklum, jamaah satu kloter sebanyak 355 orang tumplek di satu hotel. Itu belum termasuk penghuni lama hotel. Bisa ditebak, antrean lift mengekor panjang. Tak ada pilihan selain menunggu dengan sabar. Setelah ada kepastian lainnya, pembagian kamar untuk jamaah 1 rombongan yang berjumlah 45 orang dilakukan di Lantai 7.

Sempat ada kebingungan dan bersitegang satu dengan lainnya karena jumlah bed yang ada di kamar tidak sesuai dengan jumlah pria dan wanita di rombongan. Setelah lama dicoba-coba tapi tak ketemu juga solusinya maka diambil langkah dengan memindah satu bed ke Kamar 716 sehingga semula hanya 5 bed sekarang ada 6 bed. Cukup berjubel, tapi menyelesaikan masalah. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum waktu Dhuhur tiba. Inilah shalat jamaah pertama yang akan kami lakukan di Masjid Nabawi. Semangat membara karena iming-iming pahala yang 1000 kali lipat dibanding masjid lain yang ada di seluruh muka bumi ini. Saat kaki melangkah keluar langsung terasa begitu menyengat udara siang ini.

Saya tengok di handphone menunjukkan angka 43 derajat Celcius. Kami berangkat bersama dengan 6 orang yang ada di Kamar 716. Ketika di depan pintu masjid, kami diarahkan ke kanan dan kiri oleh askar. Ketika sudah ada di dalam, baru kami tersadar kalau Pak Partono, salah satu jamaah tidak ada. Pak Partono hilang. Semua orang panik. Mau cari ke mana? Begitu membludak jamaah siang ini. Mungkin karena sudah terlalu dekat dengan waktu azan Dhuhur. Padahal, saya lihat masih ada jeda waktu 45 menitan. Sambil tengak-tengok, tak ditemukan juga Pak Partono. Saya coba telepon beberapa rekan-rekan rombongan yang tadi ketemu di samping tempat wudhu, jangan-jangan Pak Partono gabung dengan mereka. Namun, hal ini terbantahkan oleh Pak Sonny yang melihat Pak Partono masih jalan dengan kami sampai di depan pintu masjid.

Akhirnya, kami pasrah dan hanya bisa berdoa semoga Pak Partono masih ingat jalan pulang ke hotel. Jika tidak, nanti juga pasti ketemu dengan petugas haji Indonesia yang memang disebar di sekitar masjid untuk jaga-jaga kalau ada yang tersesat. Mbah Mudjito yang paling akrab dengan Pak Partono, meyakini jika Pak Partono bisa jadi malah sudah sampai hotel. Maka diputuskan kami jalan pulang sambil tengok kanan-kiri, siapa tahu beliau menunggu di pinggir jalan menuju ke hotel. Sampai di lobi hotel, semua masih celingak-celinguk. Mendadak Mbah Mudjito berucap alhamdulillah dengan cukup keras sambil menuju ke depan lift.

Rupanya, Pak Partono benar sudah sampai hotel. Mbah Mudjito terlihat paling senang. Beliau memeluk dan mencium sahabatnya itu. Semua lega seiring dengan sampainya kotak jatah makan siang yang siap mengisi perut kami yang sudah keroncongan.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post