Thursday, March 1, 2018

Kenangan Umroh 2013


UmroHijrah - Seminggu sebelum saya berangkat umroh, sejenak saya mengingat kenangan umroh tahun lalu. Salah satu hal yang paling saya ingat adalah saat-saat sebelum keberangkatan. Dan di sinilah saya merasakan pertolongan Allah yang luar biasa. Dia selalu memberi lebih dari apa yang saya minta, padahal saya tahu diri bahwa kualitas ibadah saya masih jauh dari kata baik. Semua karena sifat Rahman dan Rahim-nya.

Umroh tahun lalu terasa istimewa bagi saya. Semula saya akan pergi bersama istri saya, tapi akhirnya tidak kesampaian. Anak ketiga saya yang baru berumur 2 tahun belum bisa ditinggal, karena tidak ada yang menjaganya. Akhirnya saya berniat pergi sendiri. Ternyata, Wening, anak pertama saya, mengajukan diri untuk ikut umroh.

“Pi, aku mau ikut umroh menggantikan Mimi,” ujarnya.
Subhanallah. Saya senang dan bersyukur mendengar permintaan anak saya itu. Sebenarnya, sudah menjadi target saya akan mengajak umroh anak pertama saya, besok ketika lulus SMA. Ternyata Allah menghendaki 3 tahun lebih cepat. Tahun lalu, anak saya baru lulus SMP. Jadilah saya berangkat dengan anak saya.

Sepuluh hari sebelum berangkat, saya mendapat ujian. Perut saya bermasalah. Sehari semalam saya bisa BAB lebih dari 5 kali. Setelah saya periksa di salah satu rumah sakit di Solo, saya dinyatakan sakit infeksi pencernaan akut. Dokter manyarankan untuk mondok di rumah sakit, istirahat total. Saran dokter tersebut tidak saya penuhi.

“Maaf, Dok. Saya tidak bisa mondok di rumah sakit, karena sekarang saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sebelum saya tinggal umroh 10 hari lagi,” tutur saya.

Akhirnya, dokter memberi obat jalan saja. Seminggu berselang, perut saya tidak kunjung membaik. Obat yang diberikan dokter sudah habis. Saya kembali periksa ke rumah sakit dengan dokter yang sama. Rupanya, dokter tersebut marah.

“Bapak tidak akan lekas sembuh kalau tidak istirahat total. Obat tidak akan bisa bekerja dengan optimal,” kata dokter.

Mendengar penjelasan dari dokter tersebut, saya tetap bersikukuh untuk tidak mondok di rumah sakit.

“Maaf, Dok. Dua hari lagi saya harus berangkat umroh. Tolong berikan obat sekali lagi. Insya Allah tidak akan ada apa-apa,” ucap saya. Tanggal 23 Mei saya berangkat umroh bermodal obat dari dokter tersebut. Setiap hari, obat saya minum sesuai aturan dokter. Di sinilah pertolongan Allah sangat saya rasakan. Selama di Tanah Suci, saya banyak minum air zamzam dan banyak berdoa.

Alhamdulillah. Hampir-hampir saya tidak mengalami masalah dengan perut saya. Hanya beberapa hari BAB masih 2-3 kali sehari semalamnya. Itu sama sekali tidak mengganggu semua tahapan umroh yang harus saya laksanakan. Makan pun terasa enak. Semua jenis makanan yang tersaji dari hotel saya santap, kecuali sambal yang saya hindari. Selama 9 hari berjalan, umroh bisa saya laksanakan dengan lancar. Sesampai di rumah, perut saya kembali bermasalah, sama seperti sebelum saya berangkat umroh. Akhirnya, saya kembali periksa ke dokter yang sama.

Jadilah saya mendapat amarah dokter untuk kedua kalinya. Di sela-sela pemeriksaan, saya ceritakan kalau selama di Tanah Suci saya tidak mengalami kendala dengan perut saya. Kembali saya meyakinkan sang dokter untuk obat jalan saja.

Seminggu berjalan hingga obat dari dokter habis, perut saya tidak juga sembuh. Akhirnya, saya memilih untuk tidak ke dokter lagi. Saya pilih jalan lain untuk menyembuhkan sakit ini.

Saya teringat sahabat saya di Jakarta. Saya kontak dia untuk meminta doa dan nasihatnya. Sahabat saya ini mengiyakan akan support saya dengan doa dan meminta saya banyak membaca Al-Quran. Dia bilang, Al-Quran adalah obat dari segala penyakit.

Nasihat itu saya laksanakan. Saat itu, saya sudah tidak minum obat dan tidak periksa ke dokter lagi. Saya ganti dengan banyak membaca Al-Quran dan mengiringinya dengan bersedekah.

Kurang dari seminggu, perut saya sembuh total hingga hari ini. Allahu Akbar. Terima kasih, ya Allah, atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada hambamu yang lemah ini.

Saya yakin semua nikmat yang saya rasakan semata-mata karena kemurahan Allah, bukan karena ikhtiar saya. Wallahu a’lam.
NEXT ARTICLE Next Post
This Is The Oldest Page
NEXT ARTICLE Next Post
This Is The Oldest Page