Thursday, March 8, 2018

Catatan Umroh 2014 (3): Karena Dorongan, Masuk Raudhah dengan Mudah


UmroHijrah - Semalam, akhirnya pemeriksaan paspor selesai pukul 02.00 WIB atau 22.00 waktu Jeddah. Berarti saya harus menunggu 4 jam hanya untuk pemeriksaan paspor. Lamanya pemeriksaan lebih banyak disebabkan karena kinerja petugas imigrasi yang kurang baik.

Ketika memeriksa malah ditinggal mengobrol dengan petugas lainnya. Jadi, melihat antrean yang mengular bukannya segera diselesaikan malahan ditinggal ke ruangan sesama petugas imigrasi. Selain itu, mereka malah bermain-main dengan Blackberry.

Jika hal ini diingatkan, petugas akan marah dan ngambek tidak mau memeriksa lagi. Saya tidak tahu, kenapa di Saudi bisa sama dengan di Indonesia. Blackberry bukannya meningkatkan kinerja, malahan sebaliknya. Indonesia tertular dari Saudi atau Saudi yang tertular Indonesia, saya tidak tahu.

Keluar dari Bandara Jeddah, saya sudah tidak kuasa menahan kantuk. Begitu masuk bus yang akan membawa saya ke Madinah, saya langsung tidur. Saya terbangun ketika tiba di daerah Pare untuk melaksanakan Sholat Magrib dan Isya, dijamak.

Waktu menunjukkan angka 01.00, atau masih separuh perjalanan ke Madinah. Benar, jam 03.00 tepat tiba di Madinah. Berarti, perjalanan dari rumah hingga Madinah, kalau dihitung sekitar 24 jam. Hotel yang saya tempati sama dengan tahun lalu, yakni Hotel Sofara Al-Huda. Jarak ke Masjid Nabawi hanya sekitar 100 meter.

Segera saya mandi dan bersiap untuk ke masjid. Waktu Subuh di Madinah saat ini mulai jam 05.42. Udara di Madinah saat ini masih terasa dingin. Sejam sebelum azan berkumandang, masjid sudah penuh. Biasanya, jamaah ber-Tahajud, 2 atau 3 jam sebelum waktu Subuh tiba.

Memang sangat terasa kenikmatan sholat di Masjid Nabawi. Mulai dari azannya yang khas, bacaan murottal imamnya yang keren, sampai suasana masjid yang mendukung. Kekhusyukan lebih mudah didapat. Sehabis Sholat Subuh, saya manfaatkan untuk membaca setoran 1 juz dan segera kembali ke hotel.

Pukul 08.00, saya dan rombongan kembali berkumpul di depan masjid untuk bisa sholat di Raudhah. Satu tempat istimewa di Masjid Nabawi, tepatnya sebelah kanan makam Rasulullah SAW dan dua sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab. Sebelum melangkah ke sana, kami berdoa bersama agar diberi kemudahan agar bisa masuk, sholat, dan berdoa di Raudhah.

Alhamdulillah, kemudahan itu datang. Sama seperti tahun lalu, ketika saya antre berdesakan dengan ratusan orang lain dari berbagai negara, tiba-tiba ada dorongan kuat dari belakang tempat saya berdiri. Tahutahu, saya sudah berada di Raudhah.

Masya Allah, segera saya ambil Sholat Taubat, berlanjut Sholat Hajat dan Shalat Dhuha. Banyak askar (petugas keamanan) yang berusaha menghalau kami yang sudah sholat agar keluar untuk memberi kesempatan yang lain. Rasanya, sudah cukup saya bisa melakukan tiga sholat sekaligus, lantas saya keluar.

Sehabis itu, waktu saya manfaatkan untuk berdoa dan memberi salam kepada Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khathab. Begitu keluar dari masjid, rasa capek setelah perjalanan panjang kemarin rasanya sudah terobati dengan nikmatnya sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah dan dua sahabatnya.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post