Friday, March 2, 2018

Apa Oleh-oleh Umroh?


UmroHijrah - Sepulang umroh, minggu lalu saya sempat kacau. Bukan kaca dalam artian serius, hanya soal jet lag. Selama di Tanah Suci, saya biasa tidur pukul 22.00 malam, berarti di Tanah Air pukul 02.00 dini hari. Selama 4 hari pertama di rumah, saya belum bisa mengubahnya. Saya baru bisa tidur mulai jam 02.00. Ini yang saya sebut kacau tadi, karena saya harus bangun lagi 2,5 jam kemudian untuk Sholat Subuh. Sehabis Subuh, saya kembali tidur.

Sesuatu yang tidak biasa saya lakukan. Jam tidur yang belum teratur menjadikan kondisi tubuh saya tidak fresh. Rasanya lelah sekali. Efeknya, pikiran belum bisa diajak fokus untuk bekerja. Padahal, pekerjaan di kantor sudah menumpuk. Belum lagi kegiatan di kampung yang sudah menunggu. Alhamdulillah, tenaga dan pikiran saya masih banyak dibutuhkan orang lain.

Sekarang, semuanya kembali normal. Saatnya saya mulai menulis lagi. Masih dalam suasana pulang umroh, saya memilih tema seputar umroh. Pulang umroh, apa oleh-olehnya? Di sinilah termasuk kekurangan saya. Adalah ketika pergi ke mana saja, termasuk ke luar negeri, tak terkecuali ke Tanah Suci, yakni malas beli oleh-oleh. Paling malas harus membawa koper yang berisi berat.

Minggu lalu, saya hanya membeli 3 lembar pasmina untuk anak saya, 1 buah baju untuk ibu, 3 kilogram kurma untuk tetangga kanan kiri, 1 lembar sajadah dan 1 buah boneka unta untuk si bungsu. Terakhir, 10 liter air zamzam jatah dari Garuda. Sudah. Itu saja. Tidak ada lainnya.

Oleh-oleh lain tentu berupa cerita selama di sana. Alhamdulillah juga, saya di kampung diberi waktu untuk sekadar mengisi kultum saat pengajian. Saya manfaatkan untuk sharing pengalaman selama di Tanah Suci. Tak ketinggalan sharing tips-tips bagaimana caranya agar bisa berangkat ke Tanah Suci.

Satu pengalaman yang belum saya share ketika di Tanah Suci adalah kejadian pada Hari Sabtu malam. Saat itu, saya merasakan capek dan kaki sedikit sakit karena telapak kaki pecah-pecah, sehingga perih. Dalam hati saya berkata, “Ah, ndak usah sholat sampai di dalam mesjid. Di jalan di depan hotel saja.”

Benar, akhirnya saya hanya jalan beberapa puluh meter dari lobi hotel dan menggelar sajadah di sana. Setelah azan selesai, segera saya lakukan sholat qobliyah Isya.

Baru saja takbiratul ihram, saya dikejutkan oleh pemandangan di depan saya. Seorang laki-laki separuh baya tengah sholat dengan kaki sebelah. Kaki sebelahnya, sambungan dengan kaki palsu.

Astagfirullah, saya merasa ditegur Allah dengan kejadian itu. Beliau yang tidak utuh kakinya saja masih sholat dengan semangatnya. Masa saya sudah merasa ogah-ogahan?

Salah satu doa yang saya panjatkan di Tanah Suci, saya memohon kepada Allah untuk diberi kenikmatan dalam melakukan ibadah, baik itu membaca Al-Quran, sholat, ketika bekerja, dan lainnya.

Selama ini, semua sudah saya lakukan. Hal yang belum bisa saya dapatkan adalah kenikmatan ketika melakukannya. Saya belum bisa melakukan sholat dengan enjoy; tidak terburu-buru.

Apalagi membaca Al-Quran. Alangkah indah apabila saya bisa menikmatinya. Tidak seperti saat ini. Baru beberapa lembar sudah menguap dan ingin segera mengakhirinya. Apalagi untuk urusan bekerja. Terkadang saya masih merasa kurang bersyukur. Padahal, setiap hari, minimal sepertiga waktu dari 24 jam, saya ada di tempat kerja.

“Ya Allah, bimbinglah kami. Anugerahkan kepada kami kenikmatan ketika kami melakukan ibadah kepada-Mu. Amin ya robbal alamin.”

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post